Sabtu, 19 Maret 2016

Perekonomian Indonesia

Perekonomian Indonesia Saat Ini
Bank Dunia atau World Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 akan mencapai 5,3%. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini yang diprediksi hanya 4,7%. Dia menambahkan belanja pemerintah akan tumbuh 3,2% pada 2016, lebih tinggi dari perkiraan tahun ini 2,1%. Belanja modal pun diyakini tumbuh 5% pada 2016, lebih tinggi dari perkiraan tahun ini yang 3,7%. ( Ndiame Diop, 2015 )

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman menyebut paket kebijakan ekonomi yang digulirkan pemerintah mampu mendongkrak ekonomi dalam negeri. Selain meningkatkan kepercayaan dunia, paket kebijakan juga memperbaiki kondisi makro ekonomi RI. Rizal menyebut, neraca perdagangan yang surplus hingga menguatnya nilai tukar rupiah menjadi bukti berhasilnya paket kebijakan pemerintah. ( Rizal Ramli, 2016 )

Nilai tukar rupiah yang tergolong stabil dan inflasi rendah memberi ruang bagi Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate yang berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ekonom Bank Central Asia David Sumual memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga acuan 0,25 persen menjadi 6,75 persen. ( David Sumual, 2016 ) BI masih memiliki ruang untuk menurunkan BI rate sebesar 25 bps menjadi 6,5%. ( Lana, 2016 )

Penurunan suku bunga acuan dipengaruhi oleh faktor nilai tukar rupiah masih stabil di posisi sekitar 13.100 per dolar Amerika Serikat pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI. Begitu juga dengan inflasi yang masih rendah di posisi 4,42 persen, bahkan deflasi pada Februari sebesar 0,09 persen. Selain itu, neraca dagang Februari juga surplus US$ 1,14 miliar, serta, cadangan devisa menunjukan perbaikan. ( David Sumual, 2016 )

Bank Indonesia (BI) mencatatkan posisi cadangan devisa Indonesia sampai akhir Februari 2016 sebesar USD104,5 miliar atau lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Januari 2016 sebesar USD102,1 miliar. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. ( Tirta Segara, 2016 )

Dengan tanda-tanda pertumbuhan yang telah terjadi, optimisme masyarakat dunia terhadap Indonesia yang sempat merosot mulai pulih. Titik balik ini, ditandai dengan banyaknya delegasi dunia yang mulai berdatangan ke Indonesia. Contohnya, pertemuan delegasi Belgia dipimpin oleh Princess of The Kingdom of Belgium Astrid Josephin. optimisme ini harus bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Momentum ini, kata dia, bisa jadi peluang Indonesia menarik investasi sebanyak-banyaknya. ( Rizal Ramli, 2016 )

Stabilnya nilai tukar rupiah, penurunan suku bunga acuan, devisa bertambah, dan kepercayaan Negara lain terhadap Indonesia yang telah membaik mengindikasikan bahwa perkonomian Indonesia saat ini telah berjalan ke arah yang lebih baik. Bahkan Chief Economist PwC mengatakan bahwa Indonesia bisa menjadi Negara dengan perekonomian yang lebih besar dari Inggris pada 2050 jika kebijakan yang ada dipertahankan. ( John Hawksworth, 2015 )



REFERENSI

Ade Mustami, Adinda. 2016. “Ekonom nilai masih ada peluang BI rate turun lagi”. www.kontan.co.id, 17:44, 19 Maret 2016.

Amelie FD, Siska. 2015. “RI Bisa Jadi Negara dengan Ekonomi Terbesar ke-4 di Dunia”. www.liputan6.com, 21:43, 19 Maret 2016.

Fuad, Hafid. 2016. “Cadangan Devisa Akhir Februari 2016 Meningkat Menjadi USD104,5 M”. www.sindonews.com, 17:50, 19 Maret 2016.

Miftakhul Jannah, Kurniasih. 2016. “Rizal Ramli: Paket Kebijakan Dongkrak Ekonomi RI”. www.okezone.com, 17:15, 19 Maret 2016.

Miftakhul Jannah, Kurniasih. 2016. “Rizal Ramli: Optimisme Dunia yang Merosot Mulai Pulih”. www.okezone.com, 18:04, 19 Maret 2016.


Petriella, Yanita. 2015. “Bank Dunia Prediksi Ekonomi Indonesia 5,3% Di 2016”. www.bisnis.com, 17:04, 19 Maret 2016.

Setyowati, Desy. 2016. “Ekonomi Terjaga, BI Rate Berpeluang Kembali Turun 0,25 Persen”. www.katadata.co.id, 17:31, 19 Maret 2016.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar