Peran Internasional & Perdagangan
Internasional
Perkembangan
globalisasi yang berlangsung dalam beberapa dasawarsa terakhir telah
menyebabkan berbagai perubahan fundamental dalam tatanan perekonomian dunia
baik sector keuangan maupun perdagangan. Perubahan tersebut khususnya di bidang
perdagangan telah mendorong sebagian besar Negara di dunia ini untuk melakukan
penyesuaian kebijakan dan praktek perdagangan internasional. Perdagangan
internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara
dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang
dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara
individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan
pemerintah negara lain. Disadari bahwa perdagangan bebas akan membawa manfaat
yang lebih besar, maka tuntutan untuk liberalisasi perdagangan dunia semakin
marak dilakukan oleh sejumlah Negara dalam berbagai forum perundingan
perdagangan.
Banyak
alasan mengapa Negara-negara terkibat dalam perdagangan internasional. David
Ricardo mengembangkan teori keunggulan komparatif (comparative advantage) untuk
menjelaskan perdagangan internasional atas dasar perbedaan kemampuan teknologi
antar Negara. Eli Heckser dan Bertil Ohlin berpandangan bahwa perdagangan
internasional terjadi karena adanya perbedaan kekayaan factor produksi yang
dimiliki Negara-negara. Perdagangan internasional juga bisa terjadi karena
preferensi Negara-negara terhadap barang dan jasa tertentu.
Paling
tidak terdapat dua keuntungan yang dapat ditarik dari adanya negosiasi perdagangan
internasional sehingga liberalisasi perdagangan dapat lebih mudah dilakukan. Pertama,
perundingan yang saling menguntungkan akan mendukung tercapainya perdagangan
yang lebih bebas. Kedua, perjanjian yang dinegosiasikan akan membantu
pemerintah menghindari terjadinya perang dagang yang sangat merugikan. (Krugman
& Obstfeld, 2000)
Kerja
sama perdagangan internasional sudah menjadi bagian dari tata kehidupan dan
kelola ekonomi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Kerja sama ini
terjelma dalam berbagai bentuk dan terlaksana pada tingkatan berbeda-beda,
bilateral, regional, dan multilateral. –Dr.
Hadi Soesastro, Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International
Studies (CSIS)
Peran Internasional & Perdaganan
Internasional dalam Perekonomian Indonesia
Menurut
analisis Sistem Neraca Sosial Ekonomi 2008 (SNSE 2008) dan Structural Path
Analysis (SPA). Pada sisi ekspor, hasil simulasi menunjukkan bahwa untuk
kelompok komoditi Pertanian, ekspor ke luar negeri mempengaruhi kesejahteraan
masyarakat lebih melalui jalur tenaga kerja. Pada kelompok industri, jalur
modal lebih dominan; ditunjukkan dengan besaran pengganda yang lebih besar
relatif terhadap jalur tenaga kerja. Dari sisi impor, dampak terhadap tingkat
kesejahteraan masyarakat disalurkan melalui dua jalur utama yakni jalur
produksi dan jalur penerimaan pajak. Faktor produksi yang terlibat dalam proses
ini terdiri dari pekerja dengan pendapatan menengah yang tinggal di perkotaan
dan pengusaha berpendapatan menengah baik di pedesaan maupun di perkotaan.
(Sabaruddin, 2015)
Perdagangan
internasional tidak dapat dipungkiri memiliki kontribusi besar dalam
meningkatkan Pendapatan Nasional Indonesia. Selain itu perdagangan
internasional juga memegang peranan dalam hal-hal berikut, yaitu:
- Meningkatkan Cadangan Valuta Asing (Devisa Negara)
Perdagangan
ekspor-impor dilakukan dengan menggunakan mata uang asing (biasanya dalam
bentuk US$ dan Euro). Ekspor menghasilkan pemasukan devisa dalam bentuk valuta
asing yang selanjutnya dapat digunakan untuk membiayai impor. Selain itu,
pemerintah juga menarik bea atas kegiatan ekspor-impor. Bea yang dikenakan pada
kegiatan ekspor-impor merupakan pendapatan negara yang dapat digunakan untuk
membiayai pembangunan sektor-sektor ekonomi di dalam negeri.
- Pertumbuhan Output di Dalam Negeri dan Peningkatan Pendapatan Nasional
Lebih dari 63% kenaikan
ekspor Januari-Agustus 2006 disebabkan oleh kenaikan komoditas-komoditas
seperti karet dan barang dari karet, bahan bakar mineral, tembaga, bijih timah,
kerak dan abu logam, lemak dan minyak hewan/nabati serta kertas/karton.
Meningkatkan ekspor atas komoditas-komoditas tersebut berarti pula meningkatkan
produksi. Peningkatan produksi berdampak pada peningkatan pendapatan. Negara
yang memproduksi barang dengan orientasi ekspor maka peningkatan permintaan
dunia terhadap produk-produknya akan member dorongan positif terhadap
pertumbuhan produksi di dalam negeri. Pertumbuhan output terjadi karena
peningkatan produktivitas dari faktor-faktor produksi yang digunakan seperti
tenaga kerja dan barang modal sehingga akan berdampak pula pada peningkatan
pendapatan nasional.
- Realokasi Sumber Daya Produksi, Diversifikasi Output, dan Internal Returns To Scale dari Perusahaan yang Mengekspor
Peningkatan produksi
akan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak sehingga penggunaan sumber daya
produksi dapat dioptimalkan. Misalnya, pada bidang usaha konveksi, penggunaan
mesin dapat dioptimalkan dengan melakukan sistem jam kerja 3 shif. Dengan
demikian, tenaga kerja yang dibutuhkan lebih banyak sehingga akan dicapai
efisiensi kerja yang lebih tinggi, antara lain efisiensi listrik; digunakan
atau tidak tetap akan dikenai biaya tarif dasar listrik (TDL). Selain itu,
waktu penyelesaian produksi juga akan lebih cepat. Realokasi sumber daya
produksi adalah bahwa dengan adanya kegiatan ekspor maka sumber daya produksi
seperti sumber daya alam dan tenaga kerja dapat digunakan secara optimal dengan
cara direalokasikan ke industri-industri yang melakukan ekspor tersebut. Dengan
meningkatnya ekspor, maka industri dapat terus mengembangkan diri dengan
memproduksi jenis-jenis barang lain sehingga tercipta diversifikasi produk.
Bila perusahaan atau industri dapat mencapai titik optimal (tingkat
produktivitas atau efisiensi kerja yang tinggi) maka akan membuat biaya
produksi per satu unit output menurun atau mencapai titik terendah (internal
returns to scale).
- Dapat Mencukupi Kebutuhan Akan Barang-Barang dan Jasa yang Tidak Diproduksi di Dalam Negeri
Ikan salmon mempunyai
kandungan gizi yang sangat tinggi. Sangat bagus dikonsumsi untuk anak. Sayang
Indonesia tidak mampu memproduksinya. Karena itu, Indonesia melakukan impor
atas ikan salmon dari Jepang.
Dalam
rangka menghadapi tantangan besar yang menghadang di depan, sebuah cetak biru
strategi kerja sama perdagangan internasional perlu segera dimatangkan unruk
mengejar kerugian Indonesia sebagai follower dalam berbagai kerja sama
perdagangan internasional. Di samping itu, kegiatan dan hubungan serta
diplomasi keuangan internasional Indonesia harus juga didedikasikan kepada upaya
mempersiapkan berbagai hal dalam rangka mewujudkan komitmen Indonesia dalam
forum internasional maupun juga sejalan dengan upaya Indonesia mempersiapkan
perekonomiannya yang lebih kompertitif di masa mendatang. (Ediana Rae, 2006)
Referensi
Ediana Rae, Dian. 2006.
Diplomasi Ekonomi Internasional Sebagai Upaya Memperkuat Kinerja dan Ketahanan
Ekonomi Nasional. Paper internal Bank Indonesia.
Heckscher, Eli dan
BertilOhlin. 1991. Heckscher-Ohlin Trade
Theory, ed. By Harry Flam dan M. June Falnders, Cambridge: MIT Press.
Krugman, Paul R &
Obstfeld, Maurice. 2000. International
Economics, Theory, and Policy, (hal:235). Fifth Edition, NJ:Addison-Wesley Publishing Company.
Respati, Dian. 2015. Peran
Perdagangan Internasioanal Terhadap Perekonomian. http://ekonomisku.blogspot.co.id/,
06:07, 20 Juni 2016.
Ricardo, David. 1951. The Works and Correspondence of David
Ricardo, ed. By P. Staffa, Cambridge: Cambridge University Press.
Sjahril Sabaruddin,
Sulthon. 2015. Jurnal: Dampak Perdagangan Internasional Indonesia Terhadap
Kesejahteraan Masyarakat: Aplikasi Structural Path Analysis. Jakarta Pusat: Departement
of Statistic, Bank Indonesia.